"Kami perantau, apakah bisa
jadi anggota CUPS?", meluncur dari salah satu warga yang tinggal di Alam
Pakuan, Barak PT BMS, Sandai, Sabtu 23 Mei 2026 lalu. Ia mengungkapkan sebuah
keinginan untuk mengelola ekonomi keluarga menjadi lebih baik lagi.
Merantau, dihadapkan pada dua
pilihan yakni berhasil atau gagal. Bagi warga NTT yang menempuh perjalanan laut
berhari-hari untuk tiba di Ketapang adalah salah satu pilihan untuk hidup lebih
baik. Bagi mereka Kalimantan menjadi tanah yang penuh โsusu dan maduโ, dimana
mereka berjuang untuk meningkatkan kehidupan menjadi lebih layak.
Tentang success story
merantau mereka mendapatkan cerita dari sanak-saudara atau sentua yang
telah duluan berjuang di tanah Borneo.
Hari itu, petang telah menyapa,
di selasar teras sebuah perumahan karyawan perusahaan yang bernama Andreas
Jehola tampak sedikit hal yang berbeda. Terlihat Kumpulan warga baik laki-laki
maupun perempuan duduk dan larut dalam diskusi bersama.
โPenting kita punya semangat
menabung, karena dengan itulah kita akan naik kelas secara bertahapโ, ujar
seorang muda yang disapa Handoyo. Ia sendiri adalah pimpinan CUPS Kantor Cabang
Sandai yang hari itu bersama timnya bergiat di perumahan Alam Pakuan PT. BMS.
Menabung dengan disiplin,
menyisihkan dari pendapatan adalah sebuah hal penting dalam menjaga stabilitas
ekonomi sebuah keluarga, tanpa terkecuali bagi mereka yang bekerja sebagai
buruh ataupun karyawan perusahaan. โKita ada alat yang bernama CUPS dimana kita
bisa simpan dan ketika kita butuh untuk kebutuhan kita, maka bisa memanfaatkan
layanan pinjaman yang tersediaโ, tambah Ronald yang juga anggota Tim KC.
Sandai.
Kisah-kisah perantau dari NTT
yang sukses mereka memulainya dari nol,
bahkan minus. โModal tekad saja, lalu disiplin menyisihkan dari
pendapatan untuk ditabung, bersyukur kita ada CUPS, pas ada kebutuhan untuk
beli tanah, buat rumah, usaha kebun sampai pendidikan anak kita bisa
memanfaatkan fasilitas layanan pinjaman di CUPS, tentu semuanya bertahap dan
disesuaikan dengan kemampuan kita, nah yang paling penting kita harus bisa jaga
kepercayaanโ, ujar Silvester Ndoa, seorang tokoh NTT Sungai Melayu yang sering
memberikan wejangan bagi komunitas NTT.
Malam kian larut, namun selasar rumah
pak Andreas Jehola kian hangat dengan diskusi tentang pengelolaan keuangan
keluarga. Bersandar pada dinding papan susun sirih, mereka bercengkrama tentang
rencana hari esok. โKita harus masuk CUPS, jangan dapat uang habis begitu saja,
merantau jauh-jauh harus hidup lebih baikโ, tekad salah satu warga bersemangat.
Hari itu pun beberapa dari warga mengatur janji untuk dapat menjadi anggota
CUPS di KC. Sandai.